Sabtu, 12 Desember 2020

Hak Keadilan Reproduksi untuk Cegah Kekerasan Seksual

Apa yang sebetulnya bisa ditarik sebagai bagian kesimpulan dari pertemuan ini kemarin?


Ber sepuluh dan itu pun sudah intens pembicaraannya karena kami semua membongkar awalnya 12 hak seksualitas dan keadilan reproduksi yang disusun sebagai konsensus dari IPPF yang masih relevan dalam pemberdayaan hak keadilan reproduksi bagi laki dan perempuan dari semua usia dan golongan

Tidak bisa disangkal bahwa konstruksi identitas gender, budaya, tatanan nilai agama memberikan kontribusi terhadap penetapan standar tentang hak keadilan reproduksi itu sendiri. Banyaknya tabu dalam hal keseharian dalam menyebut nama organ reproduksi saja menjadi tantangan tersendiri bagi banyak pihak, terutama keluarga

Teh Asih⁩ memberikan satu paradigma berpikir mengenai dampak dari konstruksi tadi yang berimbas pada banyak hal yang tampak dinormalisasi sebagai hal yang biasa dilakukan. Seperti, anggota keluarga yang lebih dewasa memegang bagian tubuh tertentu sorang anak atau bagian keluarga yang lebih muda lalu dikatakan sebagai ungkapan kasih sayang, padahal belum tentu yang bersangkutan nyaman dengan hal itu

Lalu, ada cerita dari Arfi⁩ yang menggarisbawahi maskulinitas toksik dalam kasus sekelompok anak laki yang bermain tendang tendangan ke arah selangkangan dan itu memperlihatkan bukti kejantanan mereka

Clara⁩ juga kemarin berbagi cerita mengenai satu kejadian yang disamarkan dengan kata-kata bahasa yang menimbulkan ketidaktahuan bahkan kebingungan bagi target orang yang dijadikan sasaran kekerasan/pelecehan seksual

Bagaimana setiap perlakuan tersebut akan diingat oleh tubuh (teh Asih⁩) sebagai proses traumatik yang penyembuhannya tidak akan cepat atau relatif karena melihat kondisi para penyintas di dalamnya

Reduksi tatanan budaya oleh dominasi nilai agama memberikan kontribusi terhadap kelanggengan bentuk bentuk pelecehan dan kekerasan seksual. Adanya reduksi informasi mengenai budaya tradisi di indonesia yang justru kaya dengan hal yang berhubungan dengan seksualitas akhirnya ditabukan secara perlahan dan menjadi nilai terbarukan yang menyebabkan masyarakat tidak menjadi paham akan kondisi tubuh sendiri yang seharusnya independen dan reduksi informasi ini bisa menyebabkan dampak yang meluas hingga pencarian informasi yang dianggap tidak kredibel pada akhirnya.

Cerita belum berakhir sampai di sana. Satu teman dari Semarang yang turut gabung dalam acara kemarin menggambarkan perlakuan terhadapnya dalam kacamata pelecehan seksual dan bagaimana proses penuntasannya menjadi seorang penyintas menemukan banyak tantangan

Sistem dukungan menyeluruh dan terintegrasi dari orang orang terdekat, masyarakat, institusi kredibel bahkan aparat hukum akan mempermudah mengeliminir pelecehan dan kekerasan seksual, sekaligus menegaskan pentingnya kita semua memaknai hak keadilan reproduksi sebagai hal yang manusiawi dan biasa

Terima kasih Arfi atas⁩ bantuannya lalu teh Asih⁩ untuk paparannya.
(Ditulis oleh Fanny S Alam, Koordinator Sekolah Damai Indonesia Bandung)

Kamis, 26 November 2020

ARV dan Pandemi

Sekolah Damai Indonesia,

Sabtu 24 Oktober 2020

 

ARV dan Pandemi

      Pandemi Covid-19 berdampak pada pengobatan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Virus corona menyulitkan ribuan pasien HIV/AIDS untuk mendapatkan obat antiretroviral (ARV).

      Obat antiretroviral harus diminum setiap hari untuk menekan laju virus dalam tubuh dan menjaga daya tahan tubuh orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Menurut Kang Adit selaku narasumber dalam diskusi mengenai ARV dan Pandemi menyatakan bahwa Jawa barat merupakan wilayah nomor 3 kasus HIV+ terbanyak di Indonesia dan Kota Bandung merupakan peringkat nomor 1 kasus terbanyak HIV di Jawa Barat.

       Mengkonsumsi dan terapi ARV secara teratur dan tepat waktu harus dilaksanakan oleh ODHA hal tersebut akan berfungsi untuk menekan replikasi virus HIV dalam darah sampai level tidak terdeteksi, target ODHIV dalam terapi ARV adalah mencapai level tidak terdeteksi, ada istilah U=U: Undetectable = Untransmittable, maksud dari tidak terdeteksi yakni virus yang ada dalam tubuh tidak bisa berkembang biak dan tidak menularkan secara seksual, sehingga ODHA dengan terapi ARV bisa memiliki keturunan. Selama menjalani terapi tersebut ODHA mempunyai harapan hidup yang sama dengan orang tanpa HIV dan dapat menekan menularan HIV+ kepada orang lain.

       Ketersediaan ARV selama pandemi Covid-19 sempat mengalami kekosongan dan kesulitan bagi ODHA untuk mendapatkan akses mengkonsumsi ARV, yang menjadi penyebab terhambatnya ARV di Indonesia karena kebanyakan ARV merupakan impor dari India yang saat itu sempat lockdown. Bahkan ada beberapa layanan yang memberikan ARV tidak full satu bulan, jadi di ecer ada yang per 14 hari, 7 hari, dan sempet ada layanan yang hanya bisa memberikan per 3 hari ARV jenis tertentu.

“Sejauh ini Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung telah tersedia untuk dua ribu pasien aktif. Kondisi selama pandemi, kami memang agak kekurangan stok untuk jumlah ODHIV, apa lagi pada saat PSBB di kota Bandung banyak pasien yang kesulitan mengakses ARV di RSHS, selama PSBB kami mencoba mengirimkan ARV melalui kurir karena keterbatasan akses ke Kota Bandung, selama pandemi ini di Kota Bandung mendapat bantuan dari Elton John Foundation (EJAF) yang memberikan subsidi pengambilan ARV bagi ODHIV yang terdampak COVID-19, yang masih berjalan program bantuan subsidi EJAF - untuk Akses ARV di 3 Rumah sakit yakni RSHS, BUNGSU, dan RSUD Kota Bandung. Ada pula bantuan PAP smear di Klinik Mawar. Untuk daerah lain bantuan dari Global Fund untuk pemeriksaan Viral Load gratis untuk ODHIV baru minum ARV 6 Bulan, 12 bulan, dan pasien lama 1 tahun terakhir”. Pungkas Kang Adit dalam diskusi kami.

 

Biografi Narasumber

Dian Aditya atau sering disapa Kang Adit, adalah seorang Pendukung Sebaya dari LSM Female Plus (sejak Januari 2020) wilayah kerja Klinik Teratai RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung. Sekilas Tentang Pendukung Sebaya adalah seseorang yang dapat memberikan infomasi secara benar, sederhana dan jelas serta dapat memberikan dukungan psikososial berdasarkan pengalamannya sebagai orang yang hidup dengan HIV. Sebagian besar dari Pendukung Sebaya merupakan orang yang hidup dengan HIV itu sebabnya dapat menjadi contoh nyata bagi orang yang hidup dengan HIV lainnya.


(Ditulis oleh Annisa Noor Fadilah, anggota Sekolah Damai Indonesia - Bandung. Kegiatan diskusi mingguan ini merupakan bagian dari Divergents Project, singkatan dari Diversity in Gender and Sexuality. Divergents Project disusun oleh Sekolah Damai Indonesia - Bandung, dan didukung oleh United Network of Young Peacebuilders [UNOY], Asian Youth Peace Network, dan Youthink.)

Rabu, 25 November 2020














 Tulisan Diksi Paisal, Praktisi Kesehatan dan Anggota Sekodi Bandung Batch III (dibagi setelah permohonan ijin ke penulis yang bersangkutan)

Merantau itu Kaya Cerita

Diksi Paisal, STr. Kes

Praktisi Kesehatan, ATLM Nusantara Sehat Team Based XV & Penggiat Sekolah Damai Indonesia Bandung

 


Akhir-akhir ini banyak orang diluaran sanah memilih untuk bekerja, tinggal atau bahkan menetap diluar daerahnya. Hal ini mendorong saya juga untuk melakukan hal yang sama dengan orang lain yaitu untuk memilih tinggal disuatu daerah, diluar daerah yang selama ini saya hidup. Kata merantau mungkin sudah tidak asing lagi disetiap orang, karena pada dadasarnya merantau itu suatu pilihan hidup, ketika seseorang untuk memilih untuk tinggal disuatu daerah yang bukan daerah asalnya itu lumrah adanya. Kesempatan merantau menjadikan cerita sesorang yang nantinya banyak pengalaman dan kenangan yang dapat diangkat pada setiap perjalanan hidupnya. Tujuan orang untuk merantau beda-beda, salah satu diantaranya ingin mendapatkan pengamalan baru dalam hidupnya, yang mungkin ketika merantau orang tersebut mendapatkan banyak ilmu, pengalaman, kebahagian, mendapatkan pekerjaan baru, mengenal adat istiadat masyarakat daerah ditempatnya, keindahan alam serta pariwisata ditempat perantauan, kontribusi, pengabdian untuk membantu memajukan daerah tersebut dan tidak menutup kemungkinan ketika merantau mendapat jodoh yang nantinya menjadi pendamping hidupnya.

Penempatan di Kupang Nusa Tenggara Timur

Pertama kali mendengar Provinsi Nusa Tenggara Timur difikiran saya adalah terbayang  keindahan pulau nya yang banyak dihiasi pantai yang memiliki degradasi warna yang cantik ketika dipandang, pariwisata alam yang menghiasi kekayaan abadi didalamnya, adat istiadat yang masih kental juga mengiasi di setiap pulau Nusa Tenggara Timur, keramahan masyarakat serta banyaknya kain-kain tenun khas dari berbagai suku yang menjadikan aset warisan dari turun temurun. Rasanya saya sangat antusias ketika mendapatkan penempatan disini dan ditunjuk oleh Tim Program Nusantara Sehat Kementerian Kesehatan, kala itu sudah tidak ada petimbangan lagi sehingga saya siap untuk ditempatkan di Puskesmas Akle Provinsi Nusa Tenggara Timur tepatnya di Pulau Semau Selatan Kab. Kupang.

Awal perjalanan hidup merantau dipulau orang saya alami baru pertama kali, rasanya campur aduk, suka cita karena banyak hal-hal pengalaman yang saya gali disinih  dan duka juga saya rasakan karena saya meninggalkan sementara keluarga, sahabat dan kegiatan-kegiatan sosial didaerah tempat tinggal saya yaitu di Kota Bandung. Terlepas dari semua itu,tentunya saya harus memiliki tujuan awal ketika saya ada diada diperantauan yaitu saya dapat membantu pelayanan kesehatan didaerah terpencil, perbatasan dan daerah tetinggal sesuai dengan tugas dan kompetesi saya sebagai Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM).

Aktivitas di Perantauan

Banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan pada saat kita merantau. Dai berbagai kegiatan dapat kita lakukan, kegiatan-kegiatan yang selama diperantauan saya lakukan setiap hariya, dari mulai melakukan kegiatan pekerjaan secara basic profesi saya di Puskesmas Akle yaitu melakukan pemeriksaan cholesterol, asam urat, gula darah, hemoglobin, urine rutin, BTA dan pemeriksaan penunjang lain yang ada dilaboratorium, selain itu juga saya terjun langsung ke masyarakat dengan melakukan pendekatan, penyuluhan, serta sharing tentang kesehatan dan lainnya.

Diluar dari kegiatan secara basic profesi saya, banyak juga kegiatan yang saya lakukan disinih. Saya mulai explore tentang potensi alam wisata dan keindahan pantai-pantai disekitar tempat tinggal saya. Potensi pantai di Pulau Semau ini banyak menyimpan keindahannya, dari mulai pasir putih, gradasi warna pantai yang cantik serta pemandangan yang luar biasa indah, beberapa diantaranya saya berkesempatan mengunjunginya yaitu Pantai Liman, Pantai Hlaen Ana Naikean, Pantai Otan, Pantai Uinian dan sederet pantai-pantai lainnya, selain pantai yang banyak tersimpan keindahannya, keramahan warga di Pulau Semau ini membuat saya semakin betah dan nyaman tinggal disinih, saya belajar sedikit-dikit bahasa helong sesuai dengan suku helong yang tinggal disinih, mengenal adat istiadat serta keindahan kain tenun yang dipakai oleh warga pada setiap kegiatan-kegiatan adat, pernikahan, syukuran dan lainnya. Saya berkesampatan memakai kain adat khas pulau semau suku helong yang motifnya sangat apik, halus dan bagus ketika digunakan. Toleransi antar umat beragama tentunya juga saya rasakan ketika saya diperantauan, meskipun saya muslim dan disinih mayoritas beragama non muslim yaitu Katolik & Kristen protestan tidak menjadikan jarak diantara kita, kami disinih selalu berpegang teguh rasa toleransi yang kuat antar umat beragama.

Jangan Takut Merantau

Merantau bukan untuk ditakuti, tapi harus dijalani dan disyukuri. Percayalah ketika niat kita untuk merantau itu untuk kebaikan dan kebermanfaatan pastinya banyak jalan kelancaran dan kemudahan yang dapat kita rasakan selama diperantauan. Cerita di perantauan tentunya banyak hal yang menjadikan modal bekal untuk kehidupan kita, 
suka maupun duka, senang maupun hampa dapat kita rasakan ketika kita sedang berada dimanapun termasuk diperantauan. Lakukan hal-hal yang positif sehingga dapat membuat kita bersemangat ketika sedang ada diperantauan. Banyak orang yang ingin berkesempatan merantau dan mungkin masih belum terlaksanakan karena satu dan lainnya, maka dari itu ketika kita dibukakan jalan untuk merantau, maka merantaulah. Banyak cerita dan pengalaman untuk kehidupan kita nantinya, ini menjadikan modal awal untuk pencapaian kesuksesan.

“Salam hangat dari orang rantau, mari berjuang sama-sama didaerah perantauan “


Tulisan-tulisan Hadi Yonathan, anggota Sekodi Bandung Batch III. Silakan disimak jika berkenan

(diambil dari blog yang bersangkutan dengan permohonan ijin sebelumnya)


PENTINGNYA MEMAHAMI DIRI

😉Aku Adalah Aku😉
 
Orang terkadang ingin mengerti tentang diri orang lain tetapi dirinya sendiri tidak dimengertinya, inilah salah satu problem dalam diri setiap individu muda, yang dengan hastrat ingin terlihat tak ketinggalan zaman sampai lupa dirinya siapa, bagaimana dan seperti apa...
 Sob, selalu ingat, sebelum kita memahami diri orang disekitar kita, terlebih dahulu fahami dan kenalilah dirimu sendiri, maka apabila kita telah memahami diri pribadi, tabir penghalang mata kalbu pun akan terbuka sehingga hati kita mudah untuk memahami rasa, keadaan, perasaan kepada orang lain, baik orang dekat maupun orang yang memang hanya sepintah melewat didalam kehidupan kita.
 
Saya tahu, memahami diri sendiri itu bukanlah suatu hal yang mudah, tetapi apabila kita mau bertafakur diri, mengkaji jiwa kita, God Willing, semuanya akan terbuka dan akan kamu temui siapa diri kamu yang sesungguhnya...

Dan apabila seorang insan telah mengetahui siapa dirinya, maka akan timbul rasa malu dan rendah hati, karena akan ditemuinya wadah-wadah kesalahan dan kekurangan diri, namun dibalik itu semua manfaatnya kita bisa menjaga diri kita dari segala hal-perkara yang sungguh tidak cocok bagi diri kita.
 
Orang yang mengenal dirinya sendiri akan bisa merasakan dengan hati terlebih dahulu sebelum bertindak dengan jasmaninya, karena hati adalah pusat rasa jiwa, sedangkan tubuh hanya rasa raba saja.

Orang yang tahu jati dirinya seperti apa dan bagaimana dirinya yang sesungguhnya akan tahu dan paham bagaimana seharusnya dia berpenampilan dan berbicara, dengan bertindak sesuai dengan keadaan dirinya dan seadanya (real) tanpa mau mengikuti gaya dan image orang lain (dalam arti hal-hal yang kurang bergunanya).
 
Aku mengajak kamu sob, ayo kita berkenalan sama diri kita, dan aku nyaranin kamu jangan terlalu banyak (lama) berkaca dihadapan cermin kaca karena itu akan membuatmu sibuk merias diri dan malahan bisa membuatmu iri hati kepada orang lain yang menurutmu lebih (cantik/tampan) daripadamu, tetapi berkacalah dihadapan cermin hidup dan kebaikan, agar diri dan jiwa kita bisa mengikuti jalur hidup yang sesuai dengan hak-dan norma kemanusiaan.

(sumber: https://damaimudaku.blogspot.com/2020/08/pentingnya-memahami-diri.html)

FILOSOFI TERAS/FILSAFAT STOICISM

Halo Sahabat Web ku terkasih, puji Tuhan saya memiliki kesempatan ditengah kesibukan pribadi untuk menulis artikel di laman blogger Damai Mudaku yang diadmini oleh saya, so, akhir-akhir ini saya suka sekali belajar dasar ilmu Filsafat, dan saya banyak mengenal beberapa aliran dari ilmu filsafat tersebut, salah satunya aliran filsafat Stoicism/Stoik, yang dikenal di Indonesia dengan nama Filosofi Teras sesuai dengar arti kata Stoa [Greek:Στοά] yang dapat diartikan Beranda.

 


Madzhab Filsafat Stoik ini adalah salah satu aliran filsafat kuno yang lahir di awal abad ke-3 Sebelum Masehi, di kota Atena oleh seorang filsuf bernama Zeno orang Citium, beberapa menuliskan bahwa Filosofi Stoik ini resmi terbentuk pada abad ke 108 Sebelum Masehi.

Pada masanya aliran ini banyak sekali diikuti dikarenakan tidak bertentangan dengan norma-norma agama dan manusia, juga amat mudah difahami oleh orang awam, terlebih orang-orang yang menderita [kemiskinan] banyak mengikuti aliran ini yang bertujuan memperoleh kebahagiaan sejati ditengah jeratan kehidupan.

Setelah Bapa Zeno orang Citium mendirikan aliran filsafat Stoa ini, kedepannya mulai bermunculan filsuf-filsuf lainnya yang meneruskan aliran filosofi Stiokisem ini, yakni; Chrissipus dari Soli, Cleanthes dari Assos, SEneca MUda, Cicero, Epictetus, dan Marcus Aurelius. Kamus Filsafat Terbitan Cambridge membagi para filsuf-filsuf ini menjadi tida bagian;

Pertama angkatan Stoa awal terdiri dari Zeno orang Citium (334-262SM), Chrisipus (280-206), dan Cleanthes (331-232).

Kedua angkatan Stoa tengah yang terdiri dari Panaetius (185-110 SM) dan Posidonius (135-50 SM) dari Rhodes, yang mempengaruhi Cicero (106 SM -43 M).

Dan Ketiga angkatan Stoa akhir  atau Stoa Romawi, yakni
icero (106 SM -43 M), Seneca Muda (1-65M), Epictetus (55-135M), dan Marcus Aurelius (121-180M)

Jujur saya sangat suka dengan filosofi ini, karena bisa dianut oleh semua kalangan baik kalangan konglomerat, menengah bahkan bawah sekalipun, dimana filosofi ini mencoba menggapai kebahagiaan walaupun kita dalam keadaan susah tanpa memikirkan rasa susah tersebut.

Filosofi ini juga lebih menekankan moralitas manusia, yang mengajarkan agar kita selaku penganut Stoa menemima "narimakeun" apa yang ada, dan apa yang sudah mutlak tidak bisa dirubah gak udah dipaksakan untuk diiubah karena itulah salah satu penyebab manusia bersedih hati, filosofi teras ini menuntut kita untuk hidup sesuai hukum alam sebab dan akibat, dimana kita menghindari rasa takut akan segala hal dan menumbuhkan rasa cinta kasih dan persaudaraan sesama manusia.

Contoh apabila kita dihina orang seorang stoa tidak boleh menghina balik justru lebih baik diam saja dan gak usah dipedulikan, karena sudah hukum alam bahwa sifat manusia memang demikian, tetapi sifat seperti itu bukanlah sifat yang baik bagi seorang stoa.

Seorang stoa dituntut untuk tidak menginginkan hal-hal yang diluar kemampuannya, karena dengan keinginan yang luhur melebihi batas kemampuan pribadi dapat mempengaruhi keadaan hati sehingga apabila sudah diusahakan namun tidak berhasil malah akan membuat diri bersedih dan tidak berbahagia, stoikisem lebih menekankan kerendahan hati, menerima apa yang ada, menghilangkan fikiran-fikiran negatif dan jangan mudah terpengaruh dengan hal-hal diluar batas dirinya, selalu berfikir baik dan menghibur diri dengan kebaikan.

Para stoik meyakini bahwa Yang Mutlak memberikan nalar kepada manusia dan hewan , dimana dengan nalar manusia bisa manata kehidupan didunia, so jadi manusia ini salah satu makhluk yang penting dalam tatanan ciptaan Yang Mutlak, untuk mengatur dan mengolah segala ciptaan-Nya ini, yang berarti apabila manusia merusak tatanan alam yang ada berarti itu sama artinya mengancam kelangsungan hidupnya sendiri, dapat dfahami pula bahwa eksistensi manusia ini berkaitan eratnya dengan eksistensi lain disekitarnya.

Seorang sophis yang bijak yang diliputi ide-idenya itu harus hidup sesuai dengan idenya tersebut, para stoik dituntut untuk tidak berangan-angan dengan ide-ide yang tinggi tanpa mencoba mewujudkan ide-idenya tersebut, karena dengan demikian dapat mempengaruhi kebahagiaan diri, menyiksa batin dengan ketidak puasan karena tiada wujudnya hal yang tak dikehendaki.

Seorang Stoik juga jangan merasakan takut akan adanya kematian, hantu, kejahatan, peristiwa-peristiwa buruk yang mengganggu kebahagiaan, karena itu sudah menjadi hukum alam, bukan berarti seorang stoik melepaskan kepercayaan kepada hal-hal tersebut, tetapi mencoba meluruskan nalar kita agar tidak dikendalikan oleh emosi dan nafsu yang muncul karena hal-hal itu, dan dengan meluruskan nalar kita ini dapat mengendalikan perilaku diri dalam menghadapi segala hal tersebut.

Hidup stoik juga tidak lupa selalu melibatkan Tuhan/Sang Theos dalam kehidupan sehari-hari, sebab hidup kita ini merupakan tatanan dan ketetapan Sang Mutlak, dimana manusia juga diberikan-Nya kuasa untuk bertindak sesuai kebaikan-Nya.

 Mungkin sekian dari tulisan saya tentang Aliran Filsafat Stoicism ini, kedepannya bakal kita kupas lebih dalam lagui tentang aliran filsafat paling populer ini. Ini sekedar dasarnya saja, dan saya still have to read about it supaya bisa lebih faham dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

So, moga manfaat.

Makasih

Salam Damai!

(sumber: https://damaimudaku.blogspot.com/2020/10/mengenal-filosofi-teras-filosofi.html)



 

 




Tulisan ini telah diterbitkan di Organise! edisi 93 by Anarchist Federation (AFED) Britain pada bulan November 2020

Mystification of Clothes as Cause of Sexual Violence and Harassment

By Fanny Syariful Alam

Regional coordinator of Bandung School of Peace Indonesia, a safe place for the youth to acknowledge social and human rights issues as well as to express themselves freely for peace and social justice

fannyplum@gmail.com www.bsopindonesia.org

 

2018, in one narrow aisle in Bekasi Timur street, Jatinegara, Jakarta, Indonesia, RA met a girl, continuing with sexual assault after hitting her head. He claimed to conduct it spontaneously due to her revealing clothes[1]. The latest was in July 2020 when a video shows Starbucks’ male employees[2] who peeped the women’s customers’ breasts through their CCTV in one of the outlets in Jakarta, Indonesia, making most people on their social media comment on the women’s clothes, seemingly to be ‘inviting’ the perpetrators to do so.

Furthermore, there is a tendency that women with unrevealing clothes are seen to have a strong potential object for sexual harassment and rape. This statement directly implies that the ones with more covering clothes are safer. According to one of protection institutions for women, Rifka Annisa[3] through their spokesperson, Defirentia Muharomah,  in Jogjakarta, Indonesia, the above statement is according to one of their researches underlying that the actors do the actions because they deserve to be “the righteous” to see women with such clothes, and even they never feel guilty to conduct them

Everywhere, women are vulnerable for sexual harassments and violence with the skyrocketing number across the world. No matter how many international covenants about human rights and equal rights for women as well as some improvement of applicable laws to support and to prevent them from those above-mentioned misconduct have been signed, they cannot prevent them to be still easily exposed with various undermining actions, while the societies and authorized officials tend to blame them as well. Main victimization definitely leads to what they are wearing when the events emerge. Clothes are one of the visible yet easiest causes to re-accuse women  for encountering sexual misconducts. Furthermore, it is still effortful to raise public awareness to see the reality that sexual harassments and violence occur to women merely on account of perpetrators’ pure crime and negative mindsets, not because of the victims. This circumstance stirs most people to dismiss the victims’ perspectives despite their condemns against their experience.

 

 

 

Clothes as Moral Standard Time to Time : Indonesian Religion-Based Perspective

Clothes usually symbolize certain parts of traditions, or even stories, and have maintained ancient stories of rituals, values of the countries, identity of people. At first in general, identities are constructed through uses of building materials, starting from history, geography, biology, productive and reproductive institutions, collective memories, personal fantasies, power apparatuses, and religious revelations (Castells,2010)[4].

Time develops and clothes improve as fashion ideology. Clothes and fashion appear to be simultaneously inter-exchanged in terminology, however in sociology terms, clothes mutates to broader definition to fashion as the non-cumulative change of cultural features, originating from a basic tension specifically to the condition of the human being which underlies the tendency to imitate somebody else or to distinguish ourselves from others (Simmel, 1904)[5].

Simmel’s statement about fashion assists to identify clothes as a part of cultural traits, one of them is religion. Specifically, most of institutionalized religions provide their values as codes for societies for defining morality standard, even towards the existence of clothes which are supposed to be worn by societies. By following their conducts, the societies have an imperative role to maintain their religions’ traditions as well as to control them symbolically. Gradually, the value alters to be the obligation which must be accepted everywhere, and soon it will be a new justification for people to blame those improperly dressed according to it.

Clothes implies main religions’ conducts described through the religion principles, for example here Islam (Arthur, Linda.B)[6]. When it comes to Islam, whose followers are referred to as Muslims, and according to The Koran as their holy book, Muslim women are required to dress modestly, in this case to cover their body, which actually encompasses the principle of restricting their behaviors as well as to anticipate disrespectful actions sexually.  Islam itself is segregated to moderate and conservative groups, which affect the code of clothing for the women in particular. The conservative requires them to comply with the tradition, as a way to combat the cultural assimilation from westernization through Islam societies since the end of World War II.  

In Indonesia, the idea of assimilating religion principle, in this case Islam, as moral standard for people’s life emerges as an accepted value when later to be an imposed norm through some of  formal provincial and regional regulations. In contrast, for example, while women in the country might enjoy openness based on fair gender perspective to make them equal to men, yet they have currently been facing conservatism in Islam to shift some values, one of which relies on how to rule women’s clothes in public. The tendency to adhere Islamic value gets to be certain when recently it has been the likely story to see women in veil in various terms of jobs, mostly in government instances and other public institutions. For example, on 26 June 2020, The Regent of Central Lombok, Moh.Suhaili Fadhil Thohir, instructed all Moslem women civil servants to wear chador[7] instead of health masks to combat COVID pandemic. All of them, for the first time on 3 July 2020, participated in the Friday’s routine sport wearing their chador. The regent himself checked them one by one based on the chador requirement on behalf of the Islamic value, and started to criticize the ones who were still wearing long trousers instead of long dress as a part of chador requirements. Throwing back in 2012, the similar regulation was applied in the regency area of Bone Bolango in the province of Gorontalo,[8] explaining that all women civil servants had to wear formal moslem attire as instructed by the Regent through his deputy, Hamim Pou. He underlined that it was a must in a purpose to support the regional principle of Bone Bolango Bermartabat (the dignified Bone Bolango) as well as to provide the polite impression in front of public.

The circumstance eventually segregates Islamic women and non-Islamic ones despite the country’s obligation to respect both of their rights with no exceptions. As well, it directs women to comply with the principle when dressing appropriately. Unfortunately, the conduct tends to be forced to non-Islamic women[9], particularly students of high schools where the regions adopt the conduct, for example in Aceh, where the Syariah principle is applied onto the regional law completely, in Padang, West Sumatera, and some regions in Central Java[10] as well as other 21 provinces in Indonesia.

 

“Inappropriate “ Clothes Means Justification for Sexual Violence and Harassments?

In accordance with the above-mentioned religion value, clothes become another new moral standard which particularly  applies to women. They thrive to be a parameter when seeing most cases of sexual violence and harassment. The principle of women’s wearing any they prefer for their own comfort is found against the applicable value in public (whether it is accepted by collaborative consent or forced on behalf of the society’s will), and it is very usual when religion value is promoted to support moral standardization through the tools, such as clothes.  It is taken as a must, which actually for some women it is the optional matter because it is a personal thing other people cannot interfere despite carrying the religion behind.

What is taken ‘inappropriate’ in terms of clothes? Inevitably, religions inspire their followers to act, to behave, and  lately, seldom do they treat them as personal conducts, but more than that, they exactly prefer their peers or other parts of public to conduct the same principle. This process somehow gains a politicization, supported by politicians and  religious leaders, as a result, not only can it be another law product, but also a guidance which allows the justification to victimize women through their clothes when encountering sexual violence and harassments. In order to contrast the existence of westernization in daily attire, clothes usually are directed to follow the religion values, imposed to more women to do so.

The tendency to justify the reason most women are assaulted and harassed sexually as well as to victimize them due to their clothes shows lack of human right and victim perspectives since they keep being blamed no matter how bad the experience they have gained. Most of people ignore the circumstance of religious environment where the people are openly prone to sexual violence and harassment, as said by Fathkhurozi, a director of Legal Resources Centre for Gender and Human Rights [11]that around the period of 2009-2012 approximately 85 girls and children were assaulted sexually in the environment of Islamic boarding schools in Central Java. Not only the assaults such as sodomy, rape, but also other forms of violence, such as underage and forced marriage took place at most of the places.

The perspective of attention towards victims of sexual violence and harassment is on the need to be acknowledged without focusing on their clothes and it should be properly introduced to all people, not only the ones who are relevant to anticipate such cases. No women or men should be facing any undermining practice. The thought to see anyone to get such experience on account of their inappropriateness of their clothes should be eliminated distantly from everybody’s mind.

Are we still going to blame the victims on what they are wearing? Or are we going to start to listen to their perspectives?

Bibliography :

1.       https://www.liputan6.com/news/read/3295673/pelaku-pelecehan-seksual-di-jatinegara-tergiur-pakaian-seksi-korban

2.      https://news.detik.com/berita/d-5077990/baju-pelanggan-starbucks-yang-diintip-disorot-ini-kata-komnas-perempuan/2

3.      https://lifestyle.kompas.com/read/2018/11/09/070700020/pakaian-korban-kerap-disalahkan-dalam-kasus-pemerkosaan-pantaskah-?page=all

4.      Castells,  M.(2010). The  power  of  identity  with  a  new  preface,  Second  edition.  Oxford: Blackwell Publishing

5.      Benvenuto, Sergio, Book Review of Georg Simmel ‘Fashion’, Journal of Artificial Societies and Social Simulation (JAASS), Volume 3-Issue 2, March 2000

6.      Arthur, Linda.B, Religion and Dress,  https://fashion-history.lovetoknow.com/fashion-history-eras/religion-dress

7.      https://www.hrw.org/id/news/2020/07/08/375744 Diskriminasi Aturan Berpakaian Di Lombok Tetap Berlaku Selama Pandemi COVID-19

8.      https://republika.co.id/berita/nasional/umum/12/02/08/lz2nuk-di-bone-pns-wanita-wajib-berjilbab

9.      https://independensi.com/2018/08/25/siswi-kristen-wajib-pakai-jilbab-di-riau/

10.  https://www.vice.com/id_id/article/neayeg/kasus-sekolah-negeri-paksa-pelajar-pakai-hijab-terdeteksi-di-24-provinsi-indonesia

11.  https://ecpatindonesia.org/berita/terjadi-pelecehan-seksual-di-pesantren/

 



[4] Castells,  M.(2010). The  power  of  identity  with  a  new  preface,  Second  edition.  Oxford: Blackwell Publishing

[5] Benvenuto, Sergio, Book Review of Georg Simmel ‘Fashion’, Journal of Artificial Societies and Social Simulation (JAASS), Volume 3-Issue 2, March 2000

[7] https://www.hrw.org/id/news/2020/07/08/375744 Diskriminasi Aturan Berpakaian Di Lombok Tetap Berlaku Selama Pandemi COVID-19

 




 

Selasa, 27 Oktober 2020

Envisioning Peace

Rhaka Katresna menceritakan partisipasi dirinya di Sekolah Damai Indonesia dalam kampanye yang diadakan oleh Envisioning Peace.

https://youtu.be/S3i2DpTdy2U

Minggu, 25 Oktober 2020

Pentingnya SOGIESC bagi Pemimpin Muda untuk Menjembatani Isu Gender dan Seksualitas

Sabtu (24 Oktober 2020) pukul 15, Peace Leader Indonesia bekerjasama dengan Sekolah Damai Indonesia, (Re)aksi Remaja, Pemuda Tapal Batas dan Duta Damai Jatim mengadakan kegiatan Ngopeace Online bertajuk Pentingnya SOGIESC bagi Pemimpin Muda untuk Menjembatani Isu Gender dan Seksualitas.
Rhaka Katresna mewakili Sekolah Damai Indonesi berbagi mengenai Pengenalan SOGIESC kepada Remaja sebagai Bentuk Perdamaian
Video kegiatan bisa dilihat melalui tautan di bawah.
https://youtu.be/VLorWVq-Sws