Walking Tour Sekodi Bandung: Rasia Bandoeng


Oleh N. Handayani (fasilitator SEKODI Bandung)

Halo, saya Ani, warga SEKODI alias Sekolah Damai Indonesia di Bandung.

Nah di suatu hari Minggu pagi awal bulan Juli lalu Sekodi mengadakan pertemuan rutin dengan sahabat Sekodi. Kita berjalan kaki menyusuri napak tilas dari sejarah roman terkenal tahun 1912-1918 an sebelum kemerdekaan Indonesia. Cerita ini berasal dari Bandung tempo dulu mengisahkan dua sejoli yang jatuh cinta namun terhalang budaya. Budaya etnis Tionghoa yang kala itu melarang pernikahan satu marga. Cerita nya telah di bukukan dengan judul “Rasia Bandoeng”.



Perjalanan kami di mulai dari kedai kopi Melangkah Madjoe, dipimpin dan dibimbing oleh pakar sejarahnya kang Tanto. Beliau dengan lugas dan lantang menceritakan bagaimana awal mula cerita ini terjadi. Di perkenalkan tokoh-tokoh nya yaitu Hilda dan Tjin Hiauw. Dilanjutkan dengan kami menyusuri jalan sepanjang jalan Cibadak-jalan Sudirman-jalan Kebonjati-jalan Suniaraja hingga ke jalan Banceuy.
Sambil bercerita, sesekali kang Tanto menghentikan rombongan untuk menunjukkan bangunan-bangunan terkait sejarahnya. Seperti titik rumah sang tokoh pria, titik pertemuan kedua tokohnya, kemudia kediaman tokoh wanita serta tokoh-tokoh lain yang terkait. Kami seperti di ajak mengembara kembali ke masa itu dengan penjabaran yang menarik dari kang Tanto. Imajinasi ku terasa seperti terlempar ke dimensi kala itu. Kalau bukan karena sepatu bututku yang tidak bisa bekerja sama, kosentrasi ku pasti tidak akan buyar setiap kalinya.



Sempat larut dalam cerita itu, aku membayangkan bagaimana seorang gadis belia rela kehilangan kenyamanan yang didapat dari keluarganya untuk mempertahankan cintanya yang berakhir membawanya hingga akhir hayatnya sampai ke negeri seberang jauh dari keluarga, seorang diri. Hilda sang tokoh utama wanita diceritakan menghadapi berbagai tekanan norma dan sanksi sosial masa itu. Kekurangan dari karya novel ini hanya menceritkan sudut pandanga sang tokoh utama wanita tanpa sudut pandang dari tokoh utama pria nya. Cerita nya bisa di baca secara lengkap dari novelnya di perpustakaan kuno Bandung.








Kami mengakhiri perjalanan dengan bersantap siang melepas peluh dan lelah dari terik pagi ke siang hari ke sebuah warung makan ramai padat pengunjung yakni di kawasan Kantor Pos tengah kota Bandung, Gula Padi. Di sana beberapa anggota Sekodi yang tidak sempat mengikuti rangkaian perjalanan, ikut bergabung dan saling bertukar cerita kembali. Tidak lupa dokumentasi turut mengabadikan momen hari itu.


 

Komentar

Postingan Populer